PRESIDIUM
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA
( G M N I )
Jl. Johar Baru II No.13, Johar Baru, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10560, Indonesia

Sambutan Ketua

Sambutan Ketua

Assalammuallaikum Wr. Wb…..
Syallom…..
Hom Swastiastu….
Nammo Budaya….
Salam sejahtera….

 

Saudara-saudara sekalian,
Rekan seperjuangan yang dimuliakan oleh rakyat dan Tuhan Yang Maha Esa..!!

Kita harus bersuara tentang kebangsaan, kita harus bersuara tentang persatuan,
Demi suara-suara yang masih di bungkam
Demi langkah yang demikian tertahan itu, Maka marilah sambut pekik sebagai semangat perjuangan nasional kita…

Merdeka!!! 3X
GMNI…!!! 3X
Marhaen…!!! 3x

Sungguh bergetar jiwa dan pikiran saya, berada di depan saudara-saudara, kawan juang sekalian dalam waktu yang sangat berbahagia ini, di dalam masa-masa perjuangan kita saat sekarang ini, Tuhan Yang Maha Esa memberikan waktu kita berkumpul dalam rangka merayakan 63 tahun GMNI, 63 Tahun bukanlah usia yang muda namun sudah mencapai kematangan dalam berpikir dan bergerak.

Sungguh pula, saya sangat merasakan adanya suatu atmosfir gerakan di tengah-tengah kita yang mengingatkan saya, betapa sungguh suci dan mulia perjuangan para pejuang-pemikir terdahulu dalam perjuangannya membentuk, membangun suatu organisasi mahasiswa demi tumbuh kembangnya ajaran bapak bangsa, Ir. Sukarno di bumi pertiwi yang begitu kita cintai ini. Dan, kita yang berkumpul di tempat ini masih memiliki semangat yang begitu besar pula dalam melanjutkan tongkat estafet perjuangan yang maha suci dan mulia itu.

Apakah perjuangan yang suci dan mulia itu?
Saudara-saudara sekalian, bahwa Marhaenisme sebagai asas dan asas perjuangan kita dalam bergerak dan berjuang mengamanatkan kepada kita agar kita harus memiliki kesetiaan perjuangan dalam menghilangkan penghisapan manusia terhadap manusia, Agaaar kita memiliki kesetiaan perjuangan dalam menghilangkan penghisapan bangsa terhadap bangsa itu..
Kemudian, bahwa perjuangan kita haruslah mengidam-idamkan adanya persaudaran nasional dan persatuan nasional kita, demikian pula diantara bangsa-bangsa di duniaaa
?    Bukankah Tuhan…. sekali lagi…. Tuhan Yang Maha Esa itu juga menghendaki seluruh umat manusia yang berbangsa-bangsa itu harus hidup dalam perssaudaran dan persatuan….
?    Bukankah Tuhan Yang Maha Esa itu, menghendaki agar kita hidup berdampingan satu dengan yang lainnya dalam kasih dan sayang yang begitu mendalam…

63 tahun perjalanan GMNI, bukanlah usia yang terbilang muda. Pahiiit dan getirnya perjuangan itu sebagai organisasi perjuangaan telah kita rasakan Benar, kita pernah mengalami kejayaan pada masa-masa yang telah berlalu itu. Benaaarrr pernah pula selama 32 tahun itu kita hampir saja dibumi hanguskan oleh suatu kekuatan yang menginginkan hilangnya semangat nasionalisme dan patriotism Indonesia dari negeri yang kaya ini dan lebih terutama lagi ingin menghilangkan ajara-ajaran Bung Karno dari bumi Indonesia ini. Akan tetapi, sekali lagi AKAN TETAPI… semangat pantang menyerah, komitmen dan konsistensi perjuangan dari seluruh kader-kader GMNI dan pendahulu-pendahulu kita, maka GMNI masih tetap bisa berkibar dan terus berkontribusi bagi bangsa dan negara ini di tiap-tiap perubahan terbaik dalam kehidupan rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, hingga saat ini…
?    Terimakasih para senior yang sudah telah mengorbankan dirinya..
?    Terimakasih para senior atas semangatnya…
?    Terimakasih kepada kader-kader GMNI diseluruh Indonesia yang sampai saat ini masih setia di garis massa, masih setia berjuang dalam garis ideology….

Kepada kader GMNI di seluruh Indonesia…

Saya ingin mengingatkan, perjuangan kita saat ini tidaklah semakin mudah melainkan semakin berat, bahkan sangat beraat..
?Kita dihadapkan dengan berbagai persoalan yang demikian kompleks
?Kita tidak boleh merasa bangga dengan perkembangan organisasi yang kian pesat..
?Kita harus tetap terus memperbaiki diri, menguatkan diri kita dalam setiap ruang gerakan yang kita ciptakan demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur…

Kader-kader GMNI yang berbahagia, kita tidak boleh meninggalkan basis-basis intelektual kita sebagai mahasiswa, kembali ke ruang-ruang intelektual untuk mampu menerjemahkan marhaenisme di ruang-ruang intelektual, masa ke depan tentu berbed dengan masa yang lalu dan masa kini meskpin ada hubungan masa ke masa oleh karenanya kita harus benar-benar mempersiapakan diri kita menghadapi perubahan-perubahan kedepan, pejuang pemikir pemikir pejuang hendaklah tetap menjadi suatu pemahaman yang terus menerus dan juga kita tidak boleh lupa terhadap basis kampong atau masyarakat kita sebagai medan perjuangan kita karena kita bagian dari entitas masyarakat/rakyat.

Kawan-kawanku seperjuangan beberapa waktu lalu ditengah situasi politik di Indonesia ini muncul issue-isue yang mengarah kepada SARA, situasi-situasi yang menimbulkan persoalan-persoalan intoleransi, hal ini tentu tidaklah bersesuaian dengan kultur Indonesia oleh karenanya mari kita tetap menjaga keutuhan bangsa ini dengan mengutamakan persatuan nasional di bumi Indonesia ini, tunjukkan bahwa kader-kader GMNI adalah kader yang mengedepankan kepentingan bangsa diatas kepentingan individu atau kelompok. Negara ini lahir dari keberagaman oleh karenanya perbedaan adalah kekayaan kita bukan menjadi persoalan, kembali kepada jati diri bangs aini jangan mau diadu domba oleh oknum-oknum yang menghendaki runtuhnya negara ini oleh oknum-oknum yang menghendaki hilangnya Pancasila dari bumi Indonesia ini, kita harus berdiri paling depan untuk menyuarakan suara persatuan untuk menyuarakan suara kebangsaan PERSATUAN NASIONAL.
Persoalan konsepsi-konsepsi, perilaku dan tindakan yang intoleran itu harus kita lawan dengan konsepsi persatuan dan kesatuan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Bung Karno… sebab, perilaku intoleran akan merusak nilai kebangsaan kita, akan merusak nilai-nilai perikemanusiaan kita, akan merusak demokrasi kita, akan menjauhkan kita dari kesejahteraan sosial yang di cita-citakan. Selain itu, perilaku intoleran itu akan mengaburkan nilai-nilai ke-Tuhanan yang telah ada sejak lama dalam perjalanan bangsa kita..

? Kader GMNI harus tetap senantiasa setia kawan dalam perjuangan, kita tunjukkan kita tidak akan pernah kehilangan arah perjuangan bahkan akan semakin kuat dan kuat.

Kader GMNI, kita harus memahami secara benar-benar akan adanya mekanisme-mekanisme penghancuran dari pada nasionalisme Indonesia. Kita harus waspada akan kekuatan yang terus bergerak melemahkan semangat kita.

Sejatinya, sebagai organisasi kader, sebagai organisasi perjuangan...!!!
Dalam geraknya yang dinamis dan dialektis, kader GMNI 
1.    Terus melakukan Konsolidasi Ideologi, konsolidasi Politik dan konsolidasi organisasi untuk terus dapat menyumbangkan gagasan dan pikiran –pikiran sebagai bakti utama kita terhadap ibu pertiwi demi cita cita proklamasi 17 AGUSTUS 1945
2.    Terus menerus, tanpa henti melaksanakan kaderisasi di berbagai jenjang dan bergerak di berbagai bidang sesuai dengan kebutuhan zaman
3.    Terus berpikir mandiri dan tetap bermental baja dalam mengahdapi tiap-tiap persoalan yang mendera kehidupan berbangsa dan bernegara, kita..
4.    Terus bergerak dan bergerak ditengah lauttan massa yang luas sebagaimana konsepsi perjuangan yang telah kita miliki
5.    Machtvorming…machtvorming itulah yang terus harus kita lakukan.

Seperti itulah kiranya, agar dapat kita mengerti dan kita laksanakan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Kepada Pemerintah Indonesia…

GMNI menyadari betul bahwa persoalan kebangsaan hari memang menjadi masalah yang serius. Ancaman terhadap disintegrasi bangsa menjadi perhatian yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Intoleransi, penyemaian konsepsi berfikir dan bertindak yang ingin diterapkan di dalam system pemerintahan Indonesia baik di pusat maupun di daerah namun bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945 terus di kampanyekan dalam ruang-ruang public sehingga berdampak pada kerukunan hidup masyarakat. Pemerintah hendaklah tegas terhadap upaya-upaya yang demikian itu agar tidak ada oknum-oknum yang memanfaatkan situasi-situasi akhir-akhir ini di Indonesia yang akan berdampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

GMNI melihat, di dalam negri, secara strategis dan ideologis, persoalan pelaksanaan Reforma Agraria berdasarkan UUPA No. 5 tahun 1960 harus benar-benar terlaksana sebagaimana amanat dari pada cita-cita bangsa Indonesia ini merdeka dan di bangun. Ketimpangan ekonomi dan sosial yang dialami rakyat masih kerap mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi yang telah merdeka ini. 

Selain itu, dunia pendidikan Indonesia semacamnya telah terancam dengan berlakunya privatisasi dan komersialisasi. Kompetisi yang tidak menghasilkan kopetensi mengakibatkan para student berfikir, bersikap skeptic, apatis dari berbagai hal yang mengancam kehidupan berbangsa dan benegara. Hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, telah mejadikan dunia pendidikan di Indonesia tersingkir dari semangat dan cita-cita pendidikan. Pendidikan yang sejatinya menyadarkan, mencerahkan dan mencerdaskan ternyata tidak terkonsepsikan berdasarkan ideology bangsa dan negara yaitu Pancasila.

Kemudian, kebijakan pemerintah harus berlaku tegas dan non kooperativ terhadap perusahaan-perusahan asing dan negara kapitalis – imperialis yang ingin mengganggu kedaulatan politik-ekonomi negara, seperti halnya           PT. Freeport Indonesia, terhadap terbitnya PP No. 1 Tahun 2017 GMNI sangat menyambut baik dan memberikan apresiasi SERTA DUKUNGAN  yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo melalui Menteri ESDM karena sesungguhnya ada semangat dimana TRISAKTI sebagai jalan mencapai masyarakat adil makmur terlihat dalam langkah tersebut, Berdaulat dalam bidang politik, Berdikari dalam Bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam kebudayaan, oleh karenanya GMNI mendukung TEGAS kebijakan, peraturan dimaksud dan meminta pula agar pemerintah tidak pernah goyah dan jangan takut atas ancaman-ancaman apapun yang mencoba mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat, GMNI yakin dan masih yakin pemerintah RI mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dan gejolak-gejolak yang terjadi terkait persoalan Freeport, mari bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa untuk terus mengawal dan mendukung pemerintah terkait pengembalian kedaulatan dan hak rakyat Indonesia, bahwa prinsipnya Bumi, Air dan Kekayaan alam yang terdapat didalamnya dimana makna “nya” adalah bumi Indonesia haruslah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan-kepetningan kaum pemilik modal, oleh karenanya terhadap seluruh kekayaan alam kita ini haruslah dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat Indonesia.
Pasal 33 UUD 1945 adalah menyangkut hajat hidup orang banyak dan menyangkut ekonomi gotong royong dan ekonomi kekeluargaan sebagai contoh dengan mendorong pengelolaan sumber rejeki secara kekeluargaan dalam hal ini GMNI mendukung pemerintah untuk penyerahan pengakuan hak ulayat terhadap komunitas adat,.
 
Bahwa sikap dan perilaku pragmatis, instan dan individualis harus dilawan dengan membiasakan bergotongroyong dalam berbagai hal karena dalam gotong royong terbangun semnagad solidaritas, kebersamaan, kekeluargaan yang otomatis menguatkan jiwa persatuan nasional.

GMNI perlu juga untuk mengingatkan pemerintahan Joko Widodo agar menjalankan janji-janjinya, nawacita yang telah disampaikan patutlah untuk ditunaikan, selain itu autokritik yakni pentingnya mengurangi secara perlahan ketergantungan terhadap asing dengan menghimpun dan menggerakkan kekuatan sumberdaya nasional (baik yang dimiliki perseorangan, swasta maupun negara) untuk mengembangkan, mengelola dan mendistribusikan manfaat teknologi bagi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 

Selanjutnya, Persoalan ekonomi – politik dunia internasional memang benar-benar mempengaruhi jalannya pembangunan bangsa ini kedepan. Bahwa, kapitalisme-imperialisme  internasional  terus menerus melakukan perubahan siasat. Demi mejalankan kepentingannya, penguasaan terhadap jalur darat, laut, dunia digital akan mejadi jalan bagi kapitalisme-imperialisme. 
Tentu, kerja keras pemerintah sangatlah di butuhkan. 
TRI-SAKTI, sekali lagi TRI SAKTI berdaulat di bidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian di dalam bidang budaya harus di perkuat oleh pemerintah. Sebab, GMNI sangat berkeyakinan dengan melaksanakan TRI-SAKTI dan Pancasila sebagaimana dimaksudkan oleh pendiri bangsa kita maka jalannya cita-cita kemerdekaan Indonesia itu dapat kita raih di hari- hari depan.

Bahwa, Presiden RI juga telah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila oleh karenanya sudah sepatutnya sebagai penganut negara recht state kita hendaklah membumikan dan menyebarluaskan Pancasila yang dimaksudkan oleh para pendiri bangsa kita terdahulu, kader-kader GMNI harus mampu memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat yang tela keblinger dengan pemahaman sejarah, jelaskan dan nyatakan historisnya bangsa ini, jelaskan dan sampaikan historisnya lahirnya negara bangsa dan lahirnya idiologi bangsa ini, bahwa Pancasila adalah Groundslagh Philoshopy dan sekaligus welstanchaung dalam kehidupan di bumi Indonesia yang dimana masyarakat gotong royong adalah nilai didalamnya.  

Untuk itu, dengan tegas GMNI  menyampaikan 
Pertama, laksanakan system pendidikan dengan meletakkan platform pendidikan Indonesia adalah Pancasila yang di terjemahkan sebaik-baiknya dan dilaksanakan dengan sebenar-benarnya melalui suatu kurikulum yang terukur dari sekolah dasar sampai pada jenjang Perguruan Tinggi

Kedua, segera bentuk badan adhoc pelaksanaan TRI SAKTI, untuk menjamin terlaksananya amanat proklamasi dan amanat penderitaan rakyat.

Saudara-saudara, Bung dan Sarinah yang saya banggakan…
Sudah barang tentu, pertemuan kita dalam merayakan 63 tahun GMNI pastilah ada suatu rasa kebahagian di dalam diri-kita masing-masing. Saya, telah mengetahui seluruh kader telah saling berucap dan mengucapkan harapan-harapan di hari besar kita.

Kita patut bersyukur, di dalam perjuangan kita selama hampir dua tahun ini, kita telah banyak melakukan aktivitas yang tentu baik buat organisasi yang kita cintai dan juga bangsa negara. Kita, telah menunjukkan bahwa GMNI tidak absen dalam tiap-tiap hal yang menjadi penting di kehidupan berbangsa dan negara. Walaupun, kita sama sama mengalami pahitnya telah di sebut-sebut sebagai organisasi yang berhaluan komunisme dalam masa-masa perjuangan kita yang lalu. Tapi, puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa kita telah membuktikan kita bukanlah organisasi yang berhaluan demikian meskipun kita tidak perlu menjadi Comunisto Phobie…, beberapa waktu lalu ketika stigma komunis semakin tegas dialamatkan kepada kita namun saya bersyukur kita tidak reaksioner dalam menanggapinya, karena memang sesungguhnya kita kaum progressive revolutioner bukan progresif reaksioner, kita mengambil jalan musyawarah sebagai cara-cara penyelesaian maslah sesuai falsafah bangsa kita dalam menepis dan meluruskan kebenaran-kebenaran sejarah dan menyampaikan kepada publik bahwa GMNI adalah pengikut ajaran-ajaran Bung Karno Pancasila 1 Juni 1945, kawan-kawan seperjuangan jangan takut atas stigma itu, kita buktikan bahwa kita adalah makhluk yang ber Tuhan, kita adalah seorang THEIS, bahwa kita tidak pernah menggunakan FILSAFAT MATERIALISME dalam pergerakan kita namun yang kita gunakan adalah filsafat HISTORIS MATERIALISME, langkah penyelesaian masalah yang beberapa waktu lalu diambil oleh Presidium GMNI dalam menghadapi persoalan isu-isu comunis yang dialamtkan kepada GMNI, langkah tersebut didasarkan pada falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara dan cara-cara sesuai kulturnya orang Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan, dengan komunikasi dan koordinasi yang sangat baik dengan DPP PA GMNI serta komunikasi yang dijalin oleh Ketua Umum DPP PA GMNI dengan Koordinator Presidium Nasional KAHMI sehingga terhadap persoalan stigma komunis yang dialamatkan kepada GMNI dapat terselesaikan dengan jalan-jalan musyawarah mufakat dan saling memaafkan, ini adalah contoh yang harus dilakukan oleh seluruh kader-kader GMNI se Indonesia agar persatuan nasional dapat tetap tegak dibumi Indonesia yang kita cintai ini, teruslah maju saudara-saudaraku seperjuangan yakinlah kelak dikemudian hari kita dapat mencapai cita-cita kita dan tugas atas lahirnya GMNI dapat ditunaikan.

Berjuanglah secara tulus dan ikhlas saudara-saudaraku tanpa memperhitungkan untung dan ruginya, karena perjuangan yang ikhlas ada kekuatan didalamnya… ada ruh didalamnya… ada semnagat didalamnya yang tidak bisa dilawan oleh apapun, utamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan idividu-individu… 

Saya tegaskan, bahwa GMNI berjuang untuk persaudaraan nasional, GMNI berjuang untuk kepentingan Nasional yang berdasarkan Pancasila. Bahwa, Marhaenisme yang kita jadikan sebagai asas dan asas perjuangan di dalam perjuangan kita adalah untuk membawa jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. 

GMNI menolak penindasan,ya..
GMNI menolak penghisapan, ya…
GMNI menolak perampasan hak-hak ya
GMNI berpihak kepada kaum marhaen, ya…
GMNI menolak kapitalisme, imperialism dan kolonialisme, ya
Tetapi, ingat…ingat..
GMNI berjuang untuk persatuan dan kesatuan nasional demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur…

Jadi, jika ada yang menginginkan hancurnya persatuan dan kesatuan nasional kita…saya nyatakan, goo to hellll…go to hell

Demikian pidato politik saya terimakasih atas perhatian seluruh hadirin dan hadirat…

wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq wabillahi taufiq wal hidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Syalom…
Hom Shanti Shanti Hom
Namo Budaya

Merdeka..!!! 3x
GMNI…!!! 3x
Marhaen…!!! 4x